Isinya hanya catatan saya tentang kehidupan. Ini persepsi saya, jika ada yang tercerahkan itu kebahagiaan untuk saya.

 

Meski musim akan membuatnya lapuk, bunga yang gugur ini percaya bahwa pada akhir perjalanan, dia akan diuraikan tanah menuju tangkai lain dan tumbuh kembali.

Sebab kita tahu hidup tidak linier, hidup adalah siklus ketika akhir merupakan perjalanan menuju kebermulaan. Vice versa. -J
.19072014.

Meski musim akan membuatnya lapuk, bunga yang gugur ini percaya bahwa pada akhir perjalanan, dia akan diuraikan tanah menuju tangkai lain dan tumbuh kembali.

Sebab kita tahu hidup tidak linier, hidup adalah siklus ketika akhir merupakan perjalanan menuju kebermulaan. Vice versa. -J
.19072014.

Kelak kita akan bertemu kembali pada kesempatan yang lain. Kamu tahu, pada saat itu satu-satunya kata yang kuharap kau ucapkan adalah, “Aku pulang.”

Aku butuh kamu bahkan ketika aku mengatakan tidak membutuhkanmu, aku mencintaimu bahkan ketika aku mengatakan membencimu.

Begitulah, hidupku memang penuh paradoks. Hanya saja kamu tidak mengetahui itu sedang aku pun lupa mengatakannya.

Maka kali ini izinkan aku mengatakan, “Aku mengingatmu bahkan ketika aku mengatakan sudah melupakanmu.”

Saya ini, amat sulit mengungkapkan perasaan. Apapun itu. Terbiasa dengan menutup diri. Sayangnya, saya tidak mampu menutupi bahwa saya mencintaimu.

Seketika terlintas dalam pikiran, apa bumi tidak bosan tiap hari berputar di lintasan yang sama?

Kemudian saya menyimpulkan dua jawaban. Bumi tidak bosan karena ada kepentingan lain yang harus didahulukan atau karena bumi suka berputar terus di lintasan itu.

Karena setiap hari, beda isi.

Sebuah Sajak Saat Mati Lampu

Sajak ini kutuliskan saat mati lampu

saat remangnya masa depan masih

coba kita urai dengan percaya

juga tujuan yang kita duga sama.

Dengan rakit, kira-kira pikiran kita 

sibuk menelusuri sungai ingatan,

"kita mampu", jelasku.

Sajak ini kutuliskan saat mati lampu

ketika jemari kita canggung

menghitung ragu dan gusar pada 

tiap simpang.

Perjalanan kita ini, masih amat jauh

dari tujuan yang semula kita

tetapkan. Jangan sampai lelah

menjadi alasan sebuah purna.

Sajak ini kutuliskan saat mati lampu

saat jarak tak ada makna berarti selain

angka mati, sedang rinduku

adalah harapan mewujud cahaya lilin.

-05032014-

-J-

Persimpangan Jalan dan Pelajaran

Kepadamu,

Ini hari ke dua puluh enam, yang berarti masih ada empat hari lagi aku dapat menuliskanmu. Tapi aku memilih hari ini, karena kamu mungkin lebih tahu daripada aku bahwa tak ada satupun dari kita yang dapat menjanjikan esok. 

Hari ini mendung, seperti biasa langit sedang berusaha konsisten membendung kota dengan warna abu-abu. Aku bangun agak telat dari kebiasaanku pada hari-hari sebelumnya. Entah kenapa belakangan ini badanku agak lelah, mungkin akibat dari kesibukanku beberapa minggu terakhir. Tapi itu bukan alasan untuk tidak berangkat kerja, tak ada dalih yang dapat membenarkan orang tidak menunaikan kewajibannya karena kelelahan dan aku pun bukan orang yang senang mencari-cari alasan.

Lucunya, jalanan masih sepi pada pukul tujuh pagi ini. Mendung memang berbanding lurus pada tingkat kemalasan orang. Syukurlah, pagi ini aku tidak perlu berkutat dengan kemacetan kota dari pagi. Kemudian di persimpangan jalan -waktu lampu merah yang tak pernah kuhitung karena tidak ada penunjuk waktu, tapi mungkin menembus angka seratus-, aku melihatmu. Aku diam. Melamun sejenak -tentu masih dalam hitungan detik-.

Kota ini tidak pernah tidur, gumamku -bisa juga berisi orang-orang yang tidak pun barangkali minim waktu tidur-. Alasannya sederhana, rutinitas dan perekonomian menjelma kendaraan yang kita gerakkan dengan tubuh kita. Termasuk kamu, kamu menyapu jalanan yang hampir pasti dimulai sejak aku masih tidur, dinginnya angin menjelang subuh yang menggetarkan tubuh. Jalanan masih basah, ataukah kamu menyapu kala gerimis jatuh di kota? Semoga tidak. 

Satu harapanku, semoga Tuhan tetap merawat dan menjaga hidupmu yang bekerja tidak hanya untuk dirimu sendiri tapi untuk keluarga, untuk pepohonan yang tak mampu membersihkan daun keringnya sendiri, dan untuk pengguna jalan yang (mudah-mudahan yang membaca tulisanku ini tidak termasuk) tanpa dosa membuang sampah sembarangan. 

Sebuah pekerjaan yang mulia, dan tentu aku berterima kasih karena telah mengajariku keikhlasan pagi ini. Bahwa ikhlas itu seperti membersihkan apa yang belum tentu kita kotori. Tetap sehat, tetap bahagia karena senyummu adalah surga.

Salam,

J.

Meluangkan Waktu

Kepada @vierenatirza dan @defikaaufa

Aku menjamin bahwa ini adalah surat balasan yang amat kilat.Tapi ya seperti itulah, kadang kita memang harus bersyukur kepada teknologi karena telah mendekatkan yang jauh, selama tidak berarti menjauhkan yang dekat. 

Aku memulainya dengan ucapan terima kasih atas suratmu dan harapanmu agar aku kembali menulis surat cinta. Apresiasi dari orang lain itu menyegarkan kadang, walaupun tentu kita tahu bahwa pujian adalah ujian. Dalam surat ini pun aku berusaha sepenuh hati untuk mewujudkan harapanmu, dengan kembali menulis surat yang juga kutulis sepenuh hati. Maaf jika pendahuluannya terlalu panjang, tapi mudah-mudahan kamu tidak bosan membacanya hingga pada bagian alasan kenapa aku sempat berhenti menulis. 

Baiklah, ini alasannya. Pertengahan bulan ini -tepatnya saat aku berhenti menulis-, kesibukanku meningkat drastis, ini berkaitan dengan profesi dan tempatku bekerja. Kesibukan yang meningkat, kemacetan jalanan membuat tubuhku -yang memang mudah sakit ini- kelelahan. Aku kesulitan menemukan waktu untuk menulis. Kalimat terakhir itu, kuakui sebagai kesalahan pribadiku, sebab sejatinya waktu selalu ada jika kita ingin. Hanya saja memang aku masih sulit membagi-bagi waktu sesuai porsi, dan ini menjadi pekerjaan rumah yang harus kuselesaikan segera.

Tentu aku ingin menulis ketika senggang, hanya saja, aku tidak ingin menulis sesuatu dengan setengah-setengah. Hingga aku memilih tidak menulis sama sekali daripada menulis tapi setengah-setengah, prinsip yang aneh memang. Tapi ya begitulah aku. Aneh. hehehe.

Terpenting dari semuanya adalah, aku berterima kasih padamu. Karena aku memang butuh pemantik untuk kembali menulis, aku butuh momen. Untuk itu terima kasih karena telah memantikku. Tunggu, tunggu, ada lagi yang lebih penting, kebiasaan anehku ini jangan ditiru ya dan jangan lupa untuk selalu bahagia. 

Salam dariku,

J.

Tiga Ramalan

Kepadamu,

Surat ini kutuliskan di tengah kesibukanku menyiapkan beberapa laporan serta kerja yang cukup banyak, semoga dapat menjadi pengingat bagimu bahwa kamu masih istimewa bagiku. Aku ingin meramalkan tiga hal hari ini. Pertama, aku meramalkan bahwa surat ini tidak akan panjang. Alasannya dapat kamu baca pada kalimat pertama surat ini. 

Kedua, aku meramalkan bahwa kamu masih tidak paham bahwa “kamu” yang kutuliskan dalam surat ini adalah dirimu sendiri dan masih menduga-duga bahwa itu adalah orang lain. Tidak, tentu ini untukmu, untuk waktu yang kamu luangkan kepadaku saat aku merasa lelah dengan rutinitas delapan menuju lima selama lima hari. Rutinitas menjalani kemacetan yang tentu saja aku menjadi salah satu kontributornya. Tapi tunggu sebentar, apakah hidup itu rutinitas, Tiara? Aku tidak benar-benar tahu, tapi ketika kita mengalami kebosanan dalam menjalani hidup maka saat itu kita sadar bahwa hidup kita terjebak dalam rutinitas. Lalu bagaimana dengan kita, Tiara? Apakah kita itu adalah rutinitas? Perihal ini, aku ingin kamu menjawabnya lewat pesan pribadi saja kepadaku,  kutunggu jawabannya hingga pukul 5 sore tanggal 14 Februari 2014.

Ketiga, aku meramalkan bahwa besok akan cerah. Aku sebenarnya tidak begitu suka dengan perayaan karena doa agar kamu bahagia selalu kuucapkan setiap hari. Bukan rutinitas, hanya saja hal tersebut seakan menyatu dalam napas. Dan aku mohon maaf atas kalimat terakhir pada paragraf ke dua karena begitu jelas memberikan tenggat waktunya, kamu tahu kan, aku orang hukum. 

catatan: jika tiga ramalanku di atas terbukti, sepertinya aku butuh liburan, kamu ingin menemani?

tertanda,

J.

Free Web Counters
Hit Counter