Isinya hanya catatan saya tentang kehidupan. Ini persepsi saya, jika ada yang tercerahkan itu kebahagiaan untuk saya.

 

Saya ini, amat sulit mengungkapkan perasaan. Apapun itu. Terbiasa dengan menutup diri. Sayangnya, saya tidak mampu menutupi bahwa saya mencintaimu.

Seketika terlintas dalam pikiran, apa bumi tidak bosan tiap hari berputar di lintasan yang sama?

Kemudian saya menyimpulkan dua jawaban. Bumi tidak bosan karena ada kepentingan lain yang harus didahulukan atau karena bumi suka berputar terus di lintasan itu.

Karena setiap hari, beda isi.

Sebuah Sajak Saat Mati Lampu

Sajak ini kutuliskan saat mati lampu

saat remangnya masa depan masih

coba kita urai dengan percaya

juga tujuan yang kita duga sama.

Dengan rakit, kira-kira pikiran kita 

sibuk menelusuri sungai ingatan,

"kita mampu", jelasku.

Sajak ini kutuliskan saat mati lampu

ketika jemari kita canggung

menghitung ragu dan gusar pada 

tiap simpang.

Perjalanan kita ini, masih amat jauh

dari tujuan yang semula kita

tetapkan. Jangan sampai lelah

menjadi alasan sebuah purna.

Sajak ini kutuliskan saat mati lampu

saat jarak tak ada makna berarti selain

angka mati, sedang rinduku

adalah harapan mewujud cahaya lilin.

-05032014-

-J-

Persimpangan Jalan dan Pelajaran

Kepadamu,

Ini hari ke dua puluh enam, yang berarti masih ada empat hari lagi aku dapat menuliskanmu. Tapi aku memilih hari ini, karena kamu mungkin lebih tahu daripada aku bahwa tak ada satupun dari kita yang dapat menjanjikan esok. 

Hari ini mendung, seperti biasa langit sedang berusaha konsisten membendung kota dengan warna abu-abu. Aku bangun agak telat dari kebiasaanku pada hari-hari sebelumnya. Entah kenapa belakangan ini badanku agak lelah, mungkin akibat dari kesibukanku beberapa minggu terakhir. Tapi itu bukan alasan untuk tidak berangkat kerja, tak ada dalih yang dapat membenarkan orang tidak menunaikan kewajibannya karena kelelahan dan aku pun bukan orang yang senang mencari-cari alasan.

Lucunya, jalanan masih sepi pada pukul tujuh pagi ini. Mendung memang berbanding lurus pada tingkat kemalasan orang. Syukurlah, pagi ini aku tidak perlu berkutat dengan kemacetan kota dari pagi. Kemudian di persimpangan jalan -waktu lampu merah yang tak pernah kuhitung karena tidak ada penunjuk waktu, tapi mungkin menembus angka seratus-, aku melihatmu. Aku diam. Melamun sejenak -tentu masih dalam hitungan detik-.

Kota ini tidak pernah tidur, gumamku -bisa juga berisi orang-orang yang tidak pun barangkali minim waktu tidur-. Alasannya sederhana, rutinitas dan perekonomian menjelma kendaraan yang kita gerakkan dengan tubuh kita. Termasuk kamu, kamu menyapu jalanan yang hampir pasti dimulai sejak aku masih tidur, dinginnya angin menjelang subuh yang menggetarkan tubuh. Jalanan masih basah, ataukah kamu menyapu kala gerimis jatuh di kota? Semoga tidak. 

Satu harapanku, semoga Tuhan tetap merawat dan menjaga hidupmu yang bekerja tidak hanya untuk dirimu sendiri tapi untuk keluarga, untuk pepohonan yang tak mampu membersihkan daun keringnya sendiri, dan untuk pengguna jalan yang (mudah-mudahan yang membaca tulisanku ini tidak termasuk) tanpa dosa membuang sampah sembarangan. 

Sebuah pekerjaan yang mulia, dan tentu aku berterima kasih karena telah mengajariku keikhlasan pagi ini. Bahwa ikhlas itu seperti membersihkan apa yang belum tentu kita kotori. Tetap sehat, tetap bahagia karena senyummu adalah surga.

Salam,

J.

Meluangkan Waktu

Kepada @vierenatirza dan @defikaaufa

Aku menjamin bahwa ini adalah surat balasan yang amat kilat.Tapi ya seperti itulah, kadang kita memang harus bersyukur kepada teknologi karena telah mendekatkan yang jauh, selama tidak berarti menjauhkan yang dekat. 

Aku memulainya dengan ucapan terima kasih atas suratmu dan harapanmu agar aku kembali menulis surat cinta. Apresiasi dari orang lain itu menyegarkan kadang, walaupun tentu kita tahu bahwa pujian adalah ujian. Dalam surat ini pun aku berusaha sepenuh hati untuk mewujudkan harapanmu, dengan kembali menulis surat yang juga kutulis sepenuh hati. Maaf jika pendahuluannya terlalu panjang, tapi mudah-mudahan kamu tidak bosan membacanya hingga pada bagian alasan kenapa aku sempat berhenti menulis. 

Baiklah, ini alasannya. Pertengahan bulan ini -tepatnya saat aku berhenti menulis-, kesibukanku meningkat drastis, ini berkaitan dengan profesi dan tempatku bekerja. Kesibukan yang meningkat, kemacetan jalanan membuat tubuhku -yang memang mudah sakit ini- kelelahan. Aku kesulitan menemukan waktu untuk menulis. Kalimat terakhir itu, kuakui sebagai kesalahan pribadiku, sebab sejatinya waktu selalu ada jika kita ingin. Hanya saja memang aku masih sulit membagi-bagi waktu sesuai porsi, dan ini menjadi pekerjaan rumah yang harus kuselesaikan segera.

Tentu aku ingin menulis ketika senggang, hanya saja, aku tidak ingin menulis sesuatu dengan setengah-setengah. Hingga aku memilih tidak menulis sama sekali daripada menulis tapi setengah-setengah, prinsip yang aneh memang. Tapi ya begitulah aku. Aneh. hehehe.

Terpenting dari semuanya adalah, aku berterima kasih padamu. Karena aku memang butuh pemantik untuk kembali menulis, aku butuh momen. Untuk itu terima kasih karena telah memantikku. Tunggu, tunggu, ada lagi yang lebih penting, kebiasaan anehku ini jangan ditiru ya dan jangan lupa untuk selalu bahagia. 

Salam dariku,

J.

Tiga Ramalan

Kepadamu,

Surat ini kutuliskan di tengah kesibukanku menyiapkan beberapa laporan serta kerja yang cukup banyak, semoga dapat menjadi pengingat bagimu bahwa kamu masih istimewa bagiku. Aku ingin meramalkan tiga hal hari ini. Pertama, aku meramalkan bahwa surat ini tidak akan panjang. Alasannya dapat kamu baca pada kalimat pertama surat ini. 

Kedua, aku meramalkan bahwa kamu masih tidak paham bahwa “kamu” yang kutuliskan dalam surat ini adalah dirimu sendiri dan masih menduga-duga bahwa itu adalah orang lain. Tidak, tentu ini untukmu, untuk waktu yang kamu luangkan kepadaku saat aku merasa lelah dengan rutinitas delapan menuju lima selama lima hari. Rutinitas menjalani kemacetan yang tentu saja aku menjadi salah satu kontributornya. Tapi tunggu sebentar, apakah hidup itu rutinitas, Tiara? Aku tidak benar-benar tahu, tapi ketika kita mengalami kebosanan dalam menjalani hidup maka saat itu kita sadar bahwa hidup kita terjebak dalam rutinitas. Lalu bagaimana dengan kita, Tiara? Apakah kita itu adalah rutinitas? Perihal ini, aku ingin kamu menjawabnya lewat pesan pribadi saja kepadaku,  kutunggu jawabannya hingga pukul 5 sore tanggal 14 Februari 2014.

Ketiga, aku meramalkan bahwa besok akan cerah. Aku sebenarnya tidak begitu suka dengan perayaan karena doa agar kamu bahagia selalu kuucapkan setiap hari. Bukan rutinitas, hanya saja hal tersebut seakan menyatu dalam napas. Dan aku mohon maaf atas kalimat terakhir pada paragraf ke dua karena begitu jelas memberikan tenggat waktunya, kamu tahu kan, aku orang hukum. 

catatan: jika tiga ramalanku di atas terbukti, sepertinya aku butuh liburan, kamu ingin menemani?

tertanda,

J.

Ketika Kita Berbicara Esok

Kepada Putri,

Ini perihal kesulitan yang kamu hadapi, ketika kamu pikir segalanya tidak memihak kepadamu. Kamu hadir di bagian hidupnya sekarang berharap dia adalah terakhir, yang Tuhan berikan sebagai takdir. Segalanya tampak mudah jika tak ada wanita itu -wanita yang hadir sebagai masa lalu tapi masih saja berusaha mengganggu.

Katamu, kamu berusaha bertahan dari tekanan demi tekanan yang ada. Ketika lelakimu adalah si bingung, belum berani menentukan ujung. Padahal kita tahu, seseorang dinilai dari caranya menentukan pilihan dan menetapkan masa depan. Sayangnya, lelakimu masih ragu, masih tak mampu memberi titik pada hubungannya yang sejatinya telah selesai sejak dulu.

Dan saat ini, kamu adalah perempuan yang berusaha bertahan dengan ketidakpastian. Menunggu takdir memihak kepadamu kelak. Sulit, tapi cuma itu pilihan yang dapat kamu ambil. Menunggunya bersikap karena kamu terlalu sulit melepaskan lelakimu dalam situasi sulit.

Putri, ke mana takdir akan membawa kalian kelak? Tak ada yang tahu, tapi memang seperti itu cara terbaik menguji sebuah keyakinan adalah dengan menjalaninya. Entah itu luka atau suka.

Suratku ini barangkali tidak pernah menyelesaikan masalahmu, tapi aku hanya berharap bebanmu berkurang walau hanya sedikit. Tidak ada yang mudah, tapi kita juga tahu tak ada yang benar-benar sulit. Jangan lupa tertawa dan juga kayang, sebab barangkali hidup perlu dilihat dengan cara terbalik. Karena besok masih tidak pasti, maka nikmati saja hari ini.

Salam dariku,
J.

Perihal Perih dan Jatuh

Kepada perempuan yang kini mulai beruban,

Seperti surat ini agaknya sedikit kontemplatif, saya ingin merenungi banyak hal tentangmu terutama tentang saya yang telah dua puluh empat tahun memilikimu. Pertama, tentang perjalanan yang telah membawa saya ke tahap ini. Adalah sebuah syukur kepada semesta bahwa saya telah diberikan kesempatan bernapas, sembilan bulan lewat sepuluh hari hidup di dunia antara menyatu dalam tubuh seorang malaikat yang sederhananya saya panggil ibu.

Kemudian keluar dari rahimmu, dengan segala kesakitan yang sungguh kaurasakan saat melahirkanku, barangkali naluriku pun peka, hingga aku ikut menangis karena merasakan getir napasmu yang berubah menjadi sebuah kebahagiaan. Aku lahir.

Sepertinya masa kecil adalah masa-masa aku menjalani sebuah gladi resik kehidupan. Belajar telungkup-merangkak-jatuh-berdiri-jatuh-takut berdiri-kamu tuntun lagi untuk berjalan-hingga aku berani berjalan sendiri. Semacam sebuah simulasi bahwa dalam hidup ini, jatuh adalah sebuah keniscayaan.

Kemudian di sekolah aku dijelaskan tentang hukum gravitasi yang penemuannya menurutku cukup unik, bahwa Newton (seorang ahli fisika) yang konon pada waktu itu melihat apel jatuh dari pohon. Dari sana kemudian dia menemukan hukum gravitasi. Tapi entah Newton menyadari ini atau tidak, ketika apel itu jatuh sejatinya pikirannya sedang terbang entah ke mana. Sepanjang itu juga aku selalu mengalami jatuh. Waktu kecil, ketika aku belajar naik sepeda, jatuh. Ketika sekolah dan aku bermain lari-larian bersama temanku, jatuh. Waktu kuliah, saat mengendarai motor hujan-hujan dari semarang ke jogja, jatuh. Pengalaman jatuhku cukup banyak, bekas lukaku juga cukup banyak. Hingga lama kelamaan jatuh menjadi perkara biasa untuk dihadapi.

Tapi ada hal unik, Bu. Saat dewasa jatuh bukan lagi perkara tubuh tapi juga perkara pikiran, perkara mental. Ibu pasti tahu lebih banyak tentang itu. Hanya saja aku selalu ingat ibu dan kata-kata ibu ketika pertama kali aku jatuh. Kupikir itu adalah alasan yang menguatkanku untuk berdiri.

Bu, aku ini tetap menjadi anak kecil yang manja dihadapanmu. Masih menjadi anak kecil yang tidak sanggup berbohong denganmu, semeyakinkan apapun aku berbohong kamu pasti tahu -walau tentu saja kamu pura-pura percaya padaku-. Aku hanya ingin mengucapkan sebuah ketulusan, terima kasih banyak atas dua puluh empat tahun ini tabah sekali merawatku dengan segala keras kepala dan bebalnya aku, sekarang sudah waktunya aku yang ganti membahagiakanmu.

Walaupun hidup menjatuhkanku, walaupun segala tujuanku terasa sulit, berkat doa dan kasih sayangmu segalanya menjadi mungkin dan selalu ada harapan.
Mencintai dan membahagiakanmu itu tidak pernah menemukan kata selesai, Bu. Walaupun pada akhirnya tulisan ini mencapai bagian penutup, maka biarkan kurangkum tulisan ini menjadi sebuah kalimat. Jika ada kehidupan lain setelah ini, ijinkan aku untuk tetap menjadi anakmu, aku menyayangimu.

Oh iya, kata-katamu yang menyemangati waktu aku jatuh pertama kali: jangan takut, ibu menjagamu dari belakang.

Dari anakmu yang nakal,
J.

Pada Hening Kamu Bertanya

Untuk Cahaya,

Apakah ini yang kausebut patah? tanyamu padaku malam itu, aku hanya diam. Kemudian kamu membiarkan waktu berjalan sendiri, menekuri masa demi masa. Hampa. Ketika sesak adalah kumpulan air yang kautampung dalam matamu, tersimpan rapi dalam isak.

Inikah yang dinamakan sia-sia? Kamu kemudian kembali bertanya padaku. Aku masih diam. Segalanya masih berputar di kepalamu, segala tanya tentang masa lalu, tentang usahamu mengalahkan ego demi sekadar memenangkan komitmen yang pernah kamu dan dia jalani. Tapi usahamu purna, dia pergi tanpa sepatah kata.

Apakah tidak ada yang mampu kuselamatkan? Remah-remah, tak ada yang mampu diselamatkan dari remah, kecuali sisa dan sisa adalah satu-satunya yang kamu miliki karena tak ada lagi yang utuh ketika pecah. Kepingan tak pernah berfungsi sebagai apapun jika tidak lengkap dan meskipun lengkap, perasaan bukanlah puzzle yang akan bagus ketika kepingan-kepingannya dihancurkan kemudian disatukan kembali. Perasaan adalah kaca yang ketika pecah maka tak pernah ada lagi yang sama.

Kamu tak menemukan jawaban apapun dari pertanyaan itu hingga akhirnya mengikutiku untuk diam. Kubiarkan hening menjadi tuan rumah bagi situasi ini. Kurasakan debur di dalam tubuhmu berhenti bergejolak, debarmu kembali normal. Badai di hatimu telah reda, berganti dengan desir angin musim semi yang meniupkan kehidupan.

Dia benar-benar pergi hari ini, tak lagi kautahan. Kamu mengerti. Bahkan ketika aku tak memberikan jawaban apapun. Kenangan tetap ada sebagai bagian dari waktu, bagian dari sejarah yang meski tak kau suka tapi menjadi alasanmu hidup hari ini. Selamat hidup kembali.

" sebab, tidak semua pertanyaan harus mendapat jawaban, tapi cukup dimengerti, cukup diterima. Itu saja cukup.”

tertanda,

J.

Free Web Counters
Hit Counter